Kamis, 23 Juli 2009

Tips agar karir anda cemerlang

Al Malik (The Absolute Ruler)

Assalamualaikum WWB
Saudaraku pembaca yang budiman.
Saya punya cerita tentang seorang teman yang bekerja pada sebuah perusahaan besar. Teman ini cukup cemerlang karirnya. Bayangkan pada umur 30 tahun ia sudah menjadi Kepala Cabang di daerah yang cukup mempunyai gengsi. Biasanya yang menjadi Kepala Cabang di daerah tersebut jarang yang berumur kurang dari 40 tahun.Sungguh suatu anugrah yang sangat besar bisa dapat jabatan tersebut.

Suatu hari ia dipindahkan ke kota yang lebih besar lagi, namun karena levelnya belum cukup memenuhi syarat sebagai Kepala Cabang, maka ia hanya ditempatkan sebagai Manager. Disini prestasinya masih cukup bertahan, hasil kerjanya selalu memuaskan atasan. Itu terjadi di tahun pertama ia bertugas di kota besar tersebut. Namanya kantor besar pasti banyak sekali karyawannya dan tentunya dengan berbagai karakter. Ada tukang kritik, ada tukang gosip,pokonya macam-macam tingkah laku orang ada disana.Namun sebagai karyawan yang baik ia tidak mau bergabung dengan mereka. Kalau karyawan lain makan siang ramai-ramai di kantin, maka ia memilih makan siang diruangannya dengan bekal yang dibawa dari rumah.

Setelah setahun berlalu mulailah ia bertanya tentang promosinya yang tidak kunjung datang. Makin hari makin pertanyaan itu mai menggelegar di benaknya. Karena yang diharapkan tidak kunjung datang mulailah ia merasa malas, dan yang lebih buruk lagi ia mulai bergaul dengan tukang-tukang gosip dan tukang-tukang kritik di tempat ia bekerja.
Kalau ditahun pertama ia selalu makan siang sendirian, maka sekarang mulailah ia bergabung dengan mereka. Awal-awalnya ia hanya sebatas pendengar setia, tapi semakin hari semakin banyak "informasi" yang ia dapat tentang atasan mereka. Berikutnya ia mulai jadi pembicara. Tahun demi tahun berlalu dan ia makin terpuruk, terakhir ia di demosi menjadi asistan manager karena hasil kerjanya yang semakin buruk.
Suatu hari salah seorang direktur dari perusahaan tersebut datang ke Kantor Cabang tersebut, pada saat ramah tamah dengan karyawan , sang direktur terkejut karena melihat ia duduk di jajaran asisten manajer, padahal sepengetahuan direktur tersebut taman tadi pernah jadi Kepala Cabang yang sangat berprestasi dan cukup dikenal di Kantor Pusat.
Sang direktur bertanya kepada Kepala Cabang, kenapa ia dijadikan asisten manajer. Dan dijawab oleh Kepala Cabang bahwa teman tadi sudah jadi " tukang kritik dan tukang gosip ".

Jadi ternyata sederhana jika anda seorang karyawan dan ingin mendapat promosi dalam karir anda. Cukup dua resep ampuh :
1. Jadilah karyawan produktif
2. Jadilah karyawan yang menyenangkan

Jika anda ingin promosi pastikan hati anda yang murni bersih dari kritik dan gosip. Hati yang bersih akan dengan mudah menerima karunia dari Yang Maha Kuasa, dan anda akan semakin diangkat dan diangkat oleh-Nya.

Amanah

Saudaraku sekalian.
Pernahkah anda merasa sebagai karyawan yang seakan akan tersingkir dari percaturan karir ?
Pernahkah anda merasa seakan hari-hari anda penuh dengan kesulitan ?
Pernahkah anda merasa seolah semua orang disekeliling anda memandang anda tidak sebagaimana menurut anda mereka seharusnya memandang anda ?
Pernahkah anda merasa seolah atasan selalu menyalahkan anda ?
Pernahkan anda merasa seolah bawahan selalu menyerang anda ?
Jika jawabannya "Ya", ada baiknya anda melakukan flashback terhadap jalan yang sudah anda tempuh untuk menduduki posisi anda saat ini.
Dan jawablah pertanyaan terakhir ini ," Apakah anda "meminta" amanah atau anda "diberi" amanah?".
Disitulah jawaban yang sebenarnya akan anda temui.........

Selasa, 30 Juni 2009

Blogger Competition

ntar ya kalau bahannya sudah komplit :)

Kamis, 18 Juni 2009

Membuka Hati untuk Menjadi Pribadi yang Santun



Saudara-saudara Sekalian.
Dalam kehidupan kita sehari-hari seringkali kita dihadapkan kepada situasi yang kurang menyenangkan. Situasi ini bisa datang dari mana saja di lingkungan kita.Dari dalam keluarga bisa saja datang dari istri, anak, orang tua, saudara dan lain-lain, sementara itu dari luar keluarga situasi ini bisa saja berasal dari lingkungan tempat kerja seperti dari bawahan , teman sejawat , atasan, pelanggan, dan lain sebagainya. Bermacam ragam peristiwa tidak menyenangkan hati ini bisa kita terima.

Seperti halnya siapapun juga, maka saya juga pernah mengalami hal serupa. Betapa sebuah perbuatan kecil dapat berakibat besar kalau situasinya tidak tepat. Mungkin saya tidak akan menceritakan secara detail tentang peristiwa apa, namun ada beberapa hal yang seakan menjadi pencerahan bagi pribadi saya.

Siapapun juga tidak ingin mencari masalah dengan orang-orang sekelilingnya. Apakah itu berasal dari ucapan ,perbuatan ,tulisan atau hal lainnya. Saya tergerak dengan penyampaian pimpinan saya dalam sebuah acara pembinaan rohani. Bahwa dalam situasi yang bernuansa keagamaan mengapa kita semua bisa menjadi sebuah pribadi yang santun serta menyenangkan. Menyampaikan sesuatu dengan cara yang bijaksana, sehingga yang dimaksud bisa kesampaian tanpa menimbulkan akibat yang tidak diinginkan.

Saya bertanya-tanya kenapa kita sulit untuk menjadi pribadi mulia, padahal kita sudah berusaha. Apakah yang kurang pada diri kita sehingga ada orang yang "marah" kepada kita atau perbuatan kita. Padahal dulu kita adalah orang-orang yang santun dan terbuka.

Seringkali saya termenung mengapa saya harus memendam sebuah kebencian dihati saya. Mengapa kita tidak membuka hati untuk menerima saudara-saudara kita apa adanya. Memang sering saya memendam pertanyaan dalam hati apakah memang sulit untuk menjadi orang yang "dapat diterima" apakah memang susah menjadi orang yang "disukai", apakah begitu sukar menjadi orang "berharga".

Hati manusia begitu luasnya sehingga sanggup menerima besarnya kekuasaan Allah melalui ciptaan-Nya. Lalu mengapa disaat-saat tertentu hati itu menjadi begitu kecil sehingga tidak bisa menampung sedikit realita ?Mengapa kita merasa begitu tersiksa hanya karena orang lain tidak merasakan apa yang kita rasa.

Saudara-saudara, lima bulan lamanya saya merenung untuk mencari jawaban atas semua pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiriran saya, dan ternyata jawabannya hanya sederhana yaitu "BUKALAH HATI UNTUK MENJADI PRIBADI YANG SANTUN" dan cara yang paling sederhana mulai saat ini adalah "kurangi bicara" atau bicaralah yang baik-baik saja kalau memang harus bicara.

DD

Rabu, 17 Juni 2009

Rabu, 10 Juni 2009

Life is a choice.

Salam super semuanya !!
Saudara-saudara terkadang kita sulit menerima kenyataan. Adalah suatu dilema yang berat untuk dihadapi antara pilihan-pilihan. Dipersimpangan jalan seperti sekarang ibarat buah simalakama. Disatu sisi harus tetap bertahan dengan keadaan saat ini sementara disisi yang lain tuntutan masa depan menganjurkan untuk mengambil jalan yang cukup beresiko.

Saya yakin seyakin-yakinnya salah satu cara untuk memperbaiki masa depan adalah dengan merubah masa sekarang. Namun disisi lain kenyamanan dan kemapanan saat ini akan terganggu keseimbangannya. Ibarat kata pepatah bermain api terbakar, bermain air basah. Bagaimana kita harus memiliki ketetapan hati untuk merubah hidup untuk sebuah kesuksesan di masa yang akan datang ?

Seringkali saya mendengar dan meresapi untaian kata-kata motivasi dari pakar-pakar yang mungkin telah melewati masa sulitnya. Berada di titik nadier seperti sekarang sungguh suatu ujian yang cukup memberikan pencerahan tentang makna mengikuti kata hati.

Sementara itu perubahan yang diharapkan semakin hari bukannya semakin mendekat tapi malah semakin jauh. Mungkin ungkapan seperti ini bagi orang awam tidak lebih dari untaian kata yang mewakili suatu kekecewaan, namun menurut saya ini adalah bentuk perjuangan melawan hati.

Jika mendengar kata-kata Bpk. Mario Teguh agar kita berdamai dengan diri sendiri terlihat suatu yang mudah, tapi pada kenyataannya berdamai dengan keadaanlah yang cukup sulit. Kita selalu meyakini bahwa "there is always the green behind the sandtrap", sebagai seorang the winner saya telah memegangnya selama 17 tahun ini. Lalu suatu hari saya tersadar akankah saya perlu mengunggu 17 tahun episode usia berikutnya hanya dengan menunggu. Sebagai penguasa "nasib" saya sudah menguasai kemudi hidup sebagai konsekuensi sebuah pilihan.

Sawang sinawang dalam kehidupan ini memang selalu akan hadir menyertai perjalanan kita. Tapi untuk suatu perubahan kita harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan, bahkan seharunya kitalah perubahan itu !